10 Tahapan Pada Siklus Akuntansi Yang Harus Anda Pahami

Siklus Akuntansi

Apa yang akan Anda pelajari:

  • Memahami apa itu siklus akuntansi
  • Memahami tahapan-tahapan dalam siklus akuntansi tradisional
  • Memahami siklus akuntansi pada akuntansi modern

Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas produk atau hasil dari akuntansi yaitu laporan keuangan.

Untuk menghasilkan laporan keuangan, ada tahapan aktivitas yang harus dilalui sebelumnya selama proses akuntansi. Tahapan-tahapan dalam proses akuntansi dikenal secara luas dengan istilah siklus akuntansi.

Pada tulisan ini, saya akan membahas apa itu siklus akuntansi, bagaimana tahapan-tahapan dalam siklus akuntansi, serta isu terkini apa yang berkaitan dengan siklus akuntansi?

Are you ready? Let’s get started!

Apa itu Siklus Akuntansi?

Siklus akuntansi adalah tahapan aktivitas dalam proses akuntansi, dimulai saat terjadinya transaksi hingga terbentuknya laporan keuangan.

10 Tahapan Siklus Akuntansi

10 Tahapan Siklus Akuntansi

10 Tahapan Siklus Akuntansi

Di bawah ini adalah 10 tahapan dalam siklus akuntansi yang harus Anda pahami.

1. Identifikasi Transaksi

Tahapan paling awal dari siklus akuntansi adalah terjadinya transaksi keuangan. Transaksi keuangan ini menjadi trigger atau pemicu dimulainya proses akuntansi.

Pada tahapan ini, seorang petugas pembukuan atau akan menganalisa dan mengidentifikasi transaksi yang terjadi.

Setelah teridentifikasi dengan baik, barulah petugas pembukuan mencatat transaksi tersebut pada sistem akuntansi.

Perlu dicatat bahwa tidak semua transaksi yang terjadi akan dicatat pada sistem akuntansi. Transaksi yang bisa dicatat adalah transaksi yang bisa mengakibatkan perubahan posisi keuangan dan secara otomatis harus bisa dinilai ke dalam unit moneter atau keuangan. Selain itu, transaksi tersebut juga harus memiliki bukti yang disebut dengan source document.

Apa itu source document? Source document adalah dokumen atau catatan asli yang berisi detail sebuah transaksi yang akan dicatat pada sistem akuntansi.

Sebagai contoh, source document untuk pembelian persediaan adalah tagihan atau invoice dari pemasok yang diperkuat oleh pesanan pembelian dan bukti penerimaan barang. Contoh lainnya adalah source document untuk pembayaran gaji karyawan operator adalah data absensi karyawan.

2. Pencatatan Jurnal

Setelah transaksi keuangan dianalisa dan diidaentifikasi, tahapan berikuntnya adalah mencatat atau membukukuannya ke dalam jurnal.

Apa itu jurnal? Jurnal adalah suatu catatan sistematis berdasarkan kronologi atau urutan waktu terjadinya transaksi keuangan kedalam pos-pos keuangan tertentu yang disebut dengan akun. Proses pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal disebut dengan istilah penjurnalan.

Sistem pencatatan yang digunakan pada saat penjurnalan ini menggunakan sistem pembukuan double entry, dimana setiap transaksi akan dicatat kedalam minimal dua rekening atau akun dimana satu akun dicatat debet dan akun lainnya pada sisi kredit.

Pembahasan mengenai sistem double entry dan debet kredit, akan saya bahas pada tulisan lain insya Allah.

Contoh Jurnal bisa dilihat pada tabel berikut:

Tanggal Nama Akun Debet Kredit
2/10/18 Kas 15,000,000
Modal 15,000,000

Berdasarkan frekuensinya, jurnal dibagi menjadi 2 kategori yaitu jurnal umum dan jurnal khusus. Jurnal umum adalah jurnal yang dikenal pada umumnya, dimana sebuah transaksi dicatat kedalam sedikitnya dua akun (1 debet dan lainnya kredit). Jurnal seperti ini memiliki frekuensi yang tidak terlalu sering.

Sedangkan, jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan untuk transaksi yang berulang. Misalnya, jurnal penjualan, pembelian, penerimaan kas dan lain-lain. Pada software akuntansi, jurnal khusus ini dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dan efisien.

3. Posting ke Buku Besar

Setelah membuat jurnal, tahap selanjutnya adalah memposting jurnal-jurnal tadi kedalam buku besar atau general ledger.

Apa itu buku besar? Buku besar adalah kumpulan detail transaksi yang dikelompokkan berdasarkan akun masing-masing yang ada di dalam daftar akun atau chart of account seperti buku besar kas, buku besar bank, buku besar piutang, buku besar hutang, dll.

Sebagai contoh, pada buku besar kas, dikumpulkan semua transaksi yang mempengaruhi kas baik itu kas masuk maupun kas keluar yang disusun berdasarkan kronologis transaksi.

Contoh buku besar kas adalah sepert di bawah ini:

Tanggal Keterangan  Debet  Kredit  Saldo
2/10/18 Setoran Modal Haris 15,000,000 15,000,000
3/10/18 Pembayaran Sewa Bangunan kepada Haji Ismail 3,600,000 11,400,000
5/10/18 Pembelian 2 unit Kursi Pangkas seken 1,900,000 9,500,000
5/10/18 Pembelian kaca dan lampu neon 350,000 9,150,000
7/10/18 pembelian tv 1,200,000 7,950,000
8/10/18 Pembelian Alat Cukur 800,000 7,150,000
8/10/18 Bei perlengkapan 450,000 6,700,000
10/10/18 Biaya renovasi 2,000,000 4,700,000
15/10/18 Pembayaran Listrik dan Telepon 350,000 4,350,000
16/10/18 Pembelian ATK 200,000 4,150,000
20/10/18 Penerimaan Pembayaran dari pelanggan (4 dewasa, 2 anak-anak) 140,000 4,290,000
26/10/18 Biaya training dan web hosting 1,500,000 2,790,000
27/10/18 Perjalanan Dinas 200,000 2,590,000
29/10/18 Biaya keamanan dan kebersihan 100,000 2,490,000
31/10/18 Penerimaan dari Pelanggan 3,640,000 6,130,000

4. Pembuatan Neraca Saldo

Setelah memposting jurnal transaksi kedalam buku besar, tahap berikutnya pada siklus akuntansi adalah menyusun neraca saldo.

Jika buku besar berisi detail transaksi yang dikelompokkan berdasarkan akun yang sama, neraca saldo justru sebaliknya. Untuk menyusun neraca saldo, kita hanya perlu memindahkan jumlah saldo masing-masing akun yang ada pada buku besar.

Pada neraca saldo, jumlah debet harus sama dengan jumlah kredit. Jika tidak sama, Anda harus meneliti kembali neraca saldo tersebut karena pasti terdapat kesalahan.

Berikut ini adalah contoh Neraca Saldo:

Akun  Saldo Akhir
 Debet  Credit
Kas 6,130,000
Perlengkapan 1,200,000    –
Sewa Dibayar Dimuka 3,600,000     –
Aset tetap  3,900,000      –
Pendapatan 4,020,000
Utang Usaha 750,000
Modal      – 15,000,000
Biaya Pemeliharaan & Perbaikan 2,350,000
Biaya Perlengkapan
Biaya Utilitas – Listrik 200,000
Biaya Komunikasi – Handphone 150,000      –
Biaya ATK 200,000
Biaya Sewa    –
Biaya Iklan & Promosi 240,000
Biaya Training 1,000,000
Biaya Internet – Domain & Hosting  500,000
Biaya Perjalanan Dinas 200,000
Biaya Keamanan dan Kebersihan 100,000
Total 19,770,000 19,770,000

Pada software akuntansi, neraca saldo biasanya disajikan dengan lebih lengkap meliputi saldo awal, perubahan, dan saldo akhir.

Neraca saldo yang dibuat pertama kali ini sering disebut dengan neraca saldo sebelum penyesuaian.

5. Jurnal Penyesuaian

Setelah neraca saldo dibuat, langkah berikutnya adalah membuat jurnal penyesuaian.

Apa itu jurnal penyesuaian? Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat untuk mengoreksi atau menyesuaikan saldo akun agar sesuai dengan jumlah yang semestinya.

Jurnal penyesuaian ini biasanya dibuat pada biaya atau pendapatan accrual dan deferral.

Biaya accrual yaitu biaya yang terjadi lebih dulu sebelum adanya pembayaran. Sebagai contoh, biaya listrik. Saat mencatat biaya listrik, biaya yang kita akui adalah biaya listrik yang sudah dipakai pada bulan berjalan berdasarkan angka pada KWh Meter, bukan pada saat diterimanya tagihan atau dilakukannya pembayaran.

Contoh dalam kehidupan nyata adalah seperti ini. Pada akhir bulan Oktober, pemakaian listik (pasca bayar) berdasarkan angka pada Kwh meter adalah sebesar 2.000 Kwh. Jika tariff listrik dari PLN adalah sebesar Rp 1.400,- per Kwh, maka pada akhir bulan Anda harus mengakui biaya listrik sebesar 2.000 Kwh x Rp 1.400,- sama dengan Rp 2.800.000.

Biaya sebesar Rp 2.800.000 ini harus Anda catat pada pembukuan bulan Oktober, meskipun pada saat itu Anda belum menerima tagihan dari PLN.

Sebaliknya, pada biaya deferral, pembayaran terjadi lebih dahulu sebelum biaya terjadi. Contohnya, pembayaran sewa bangunan yang dibayar dimuka untuk pembayaran beberapa bulan kedepan (misalnya per 6 bulan atau per 12 bulan).

Biaya dengan karakter seperti ini, harus dilakukan adjustment dengan cara mengakui biaya sewa hanya sebesar yang sudah terjadi pada bulan berjalan.

Sebagai contoh, pada tanggal 5 Oktober 2018, pangkas rambut Barber King membayar sewa bangunan untuk 6 bulan kedepan sebesar Rp. 3.600.000. berdasarkan transaksi ini, biaya sewa pada bulan Oktober 2018 adalah sebesar Rp. 3.600.000 / 6 bulan, yaitu sebesar Rp 600.000. Sedangkan sisanya sebesar Rp 3.000.000 masih dicatat sebagai sewa dibayar dimuka yang termasuk akun aset.

6. Neraca Saldo setelah Penyesuaian

Setelah semua jurnal penyesuaian selesai dibuat, buat kembali neraca saldo. Neraca saldo setelah dilakukan penyesuaian disebut dengan neraca saldo setelah penyesuaian yang sudah bisa diproses lebih lanjut menjadi laporan keuangan.

7. Laporan Keuangan

Setelah neraca saldo setelah penyesuaian selesai dibuat, neraca saldo tersebut sudah siap untuk dibuat menjadi laporan keuangan. Dari neraca saldo, kita bisa langsung membuat 2 laporan keuangan yaitu Laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi.

Sedangkan untuk membuat laporan Arus Kas, kita harus membuatnya berdasarkan jurnal transaksi-transaksi yang termasuk kedalam kategori Kas dan Setara Kas (termasuk dalam hal ini credit card, bank, dan deposito).

8. Jurnal Closing

Setelah membuat laporan keuangan, akuntan harus membuat jurnal closing atau jurnal penutup. Jurnal penutup hanya dibuat pada akhir periode akuntansi saja, yaitu pada akhir tahun atau 31 Desember.

Akun yang dibuatkan jurnal penutup hanya rekening nominal atau rekening laba-rugi, yaitu akun pendapatan dan biaya. Caranya adalah dengan membuat menjadi 0 atau nihil akun terkait.

Tujuan dari jurnal closing ini adalah untuk mentransfer net income atau laba bersih perusahaan menjadi retained earnings atau laba ditahan.

9. Neraca Saldo setelah Closing

Langkah terakhir, akuntan harus membuat neraca saldo setelah penutupan untuk memastikan bahwa jumlah debet sama dengan jumlah kredit pada neraca saldo tersebut.

10. Membuat Jurnal Pembalik

Membalik entri dilakukan pada hari pertama periode akuntansi untuk menghapus entri penyesuaian tertentu yang dibuat pada periode akuntansi sebelumnya.

Siklus Akuntansi “Jaman Now”

Setelah membaca pengertian dan tahapan siklus akuntansi, Anda mulai memahami bahwa siklus akuntansi adalah serangkaian proses akuntansi yang dimulai dari identifikasi transaksi, pencatatan jurnal, pembuatan neraca saldo, entri jurnal penyesuaian, pembuatan neraca saldo setelah penyesuaian, pembuatan laporan keuangan, entri jurnal penutup, pembuatan neraca saldo setelah penutupan, hingga membuat jurnal pembalik.

Berdasarkan tahapan siklus akuntansi seperti di atas, bisa diamati bahwa proses akuntansi dikerjakan setahap demi setahap.

Namun saat ini, perusahaan banyak menggunakan software akuntansi yang bisa mengerjakan aktivitas atau tahapan pada yang ada pada siklus akuntansi secara simultan atau bersamaan.

Dengan hanya membuat jurnal pada software akuntansi, dalam waktu bersamaan terbentuk neraca saldo, hingga laporan keuangan. Dengan demikian, melakukan pembukuan dan membuat laporan keuangan menjadi semakin mudah, bahkan bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya latar belakang akuntansi.

Penutup

Berdasarkan pembahasan diatas, bisa disimpulkan bahwa siklus akuntansi adalah serangkaian proses akuntansi yang dimulai dari identifikasi transaksi sampai terbentuknya laporan keuangan.

Selain itu, pada tulisan ini juga dibahas tentang penggunaan software akuntansi yang bisa melakukan beberapa pekerjaan pada siklus akuntansi secara simultan atau sekaligus, tidak harus setahap demi setahap seperti pada praktik akuntansi tradisional.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *